ONE KAR, Relawan Damkar Desa: Inovasi Empat Lawang Hadapi Kebakaran dari Akar Rumput

Dalam upaya menekan dampak kebakaran di daerah terpencil yang kerap sulit dijangkau secara cepat oleh armada pemadam, Pemerintah Kabupaten Empat Lawang melalui Dinas Satpol PP dan Damkar menciptakan inovasi pelayanan publik non-digital bernama ONE KAR (Relawan Damkar). Inovasi ini merupakan bentuk respons strategis terhadap persoalan keterlambatan respons penanganan kebakaran di desa-desa akibat kondisi geografis berbukit dan jaringan jalan yang belum sepenuhnya terakses mobil Damkar. Didasarkan pada UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, serta Permendagri No. 114 Tahun 2018 tentang Standar Pelayanan Minimal Sub Urusan Kebakaran, ONE KAR menjadi program yang memperluas jangkauan penanganan bencana dengan melibatkan elemen masyarakat sebagai garda pertama. Dinas Damkar mencatat bahwa waktu tanggap rata-rata untuk kebakaran di wilayah pedesaan bisa mencapai lebih dari 25 menit—waktu yang cukup menyebabkan kerugian besar atau bahkan korban jiwa. Dengan hadirnya ONE KAR, masyarakat tidak lagi hanya menunggu datangnya bantuan, tetapi mampu bertindak cepat dan tepat dalam beberapa menit pertama insiden terjadi. Inovasi ini dirancang untuk membentuk komunitas desa yang siaga, tanggap, dan terampil dalam menghadapi kebakaran, mulai dari penanganan awal hingga proses evakuasi. Dalam waktu singkat, program ini telah membuahkan hasil konkret dan mendapat dukungan luas dari warga.

Latar belakang dari munculnya inovasi ini sangat jelas dan relevan dengan kondisi lapangan. Empat Lawang memiliki banyak permukiman yang tersebar di dataran tinggi dan perbukitan, yang membuat unit pemadam kebakaran kesulitan mencapai lokasi dalam waktu cepat. Di sisi lain, kebakaran kerap terjadi akibat korsleting listrik, kebocoran gas, maupun pembakaran lahan yang tidak terkendali. Namun, masyarakat pada umumnya tidak memiliki keterampilan dasar dalam mengatasi kebakaran skala kecil. Hal ini menyebabkan banyak kasus kebakaran membesar hanya karena penanganan awal yang salah atau bahkan tidak dilakukan sama sekali. Pemerintah menyadari bahwa mencegah eskalasi api dalam lima menit pertama adalah kunci utama menyelamatkan jiwa dan harta. Maka dibentuklah ONE KAR, yakni kelompok relawan desa yang dilatih secara langsung oleh petugas Damkar untuk menghadapi situasi darurat kebakaran secara mandiri. Program ini juga menjadi sarana pemberdayaan dan edukasi masyarakat, agar tidak hanya menjadi korban, tetapi juga bagian dari solusi dalam penanggulangan bencana kebakaran.

Dalam praktiknya, ONE KAR telah menunjukkan kinerja luar biasa. Menurut laporan semester I Dinas Satpol PP dan Damkar Kabupaten Empat Lawang tahun 2023, tujuh kejadian kebakaran ringan berhasil dikendalikan oleh relawan ONE KAR sebelum menyebabkan kerugian besar. Di Desa Talang Padang, misalnya, api yang disebabkan oleh kebocoran gas berhasil dipadamkan hanya dalam waktu empat menit oleh tiga orang relawan yang menggunakan APAR dan karung basah. Kecepatan dan ketepatan respons tersebut menjadi bukti bahwa pelatihan yang diberikan benar-benar efektif dan relevan. Warga yang sebelumnya tidak tahu harus berbuat apa kini merasa lebih aman karena memiliki pengetahuan dan peralatan dasar untuk menghadapi api. Program ini juga mendorong solidaritas sosial karena masyarakat bergotong-royong melindungi lingkungan mereka sendiri. Para relawan ONE KAR juga menjadi agen perubahan yang menyampaikan informasi penting tentang pencegahan kebakaran ke rumah-rumah warga. Melalui peran ini, ONE KAR tidak hanya berfungsi saat bencana, tetapi juga aktif dalam membangun budaya siaga bencana di masyarakat.

Urgensi dari program ini sangat tinggi, mengingat kebakaran merupakan ancaman yang tidak mengenal waktu dan tempat. Di daerah terpencil, satu kejadian kebakaran bisa menyebabkan kerugian besar dalam hitungan menit jika tidak ditangani dengan cepat. Namun dengan jumlah personel Damkar yang terbatas, serta armada yang tidak mampu menjangkau semua titik secara serentak, diperlukan pendekatan baru yang lebih partisipatif. ONE KAR hadir menjawab isu strategis tersebut dengan membentuk jaringan relawan desa yang siap bertindak sejak detik pertama kejadian. Program ini bukan sekadar membentuk unit penanggulangan, tetapi menciptakan sistem kesiapsiagaan berbasis komunitas. ONE KAR menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam pencegahan dan tanggap darurat, sekaligus membangun kepercayaan bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama. Dengan pendekatan ini, beban Damkar menjadi lebih ringan, dan waktu tanggap mereka bisa lebih difokuskan ke kasus-kasus besar. Isu lainnya seperti minimnya edukasi kebakaran juga turut dijawab melalui pelatihan berjenjang dan simulasi berkala yang digelar bersama masyarakat.

Keunikan atau kebaruan dari inovasi ini terlihat jelas dari model sinergi yang diciptakan antara Damkar, pemerintah desa, dan masyarakat. Relawan yang tergabung dalam ONE KAR bukan hanya diberi pelatihan formal, tetapi juga dilibatkan dalam simulasi lapangan, pendataan risiko lokal, serta pemetaan zona rawan. Mereka juga dilengkapi dengan APAR, ember pasir, tangki semprot, dan karung basah yang disediakan secara bertahap oleh Dinas Damkar. Tak hanya itu, setiap desa memiliki zona aman dan titik kumpul yang telah ditetapkan, serta terhubung dalam sistem komunikasi cepat melalui WhatsApp dan radio antarposko. Relawan juga menjalani rotasi jadwal patroli, terutama di musim kemarau dan malam hari saat risiko kebakaran meningkat. Semua sistem ini dibangun dengan pendekatan gotong royong dan pelatihan berbasis pengalaman. Pendekatan yang digunakan oleh ONE KAR berhasil membangun kesiapan teknis sekaligus memperkuat rasa memiliki terhadap lingkungan sekitar. Hal ini menjadikan program ini tidak hanya fungsional, tetapi juga transformatif secara sosial.

Tahapan pelaksanaan inovasi ONE KAR dimulai dari identifikasi desa-desa dengan tingkat kerawanan kebakaran tinggi. Tim Dinas Damkar bersama perangkat desa melakukan sosialisasi tentang bahaya kebakaran dan pentingnya peran serta masyarakat dalam penanganannya. Selanjutnya, dilakukan perekrutan relawan dari kalangan pemuda, perangkat RT/RW, tokoh masyarakat, hingga ibu rumah tangga yang berminat. Mereka kemudian mengikuti pelatihan dasar yang mencakup penggunaan APAR, evakuasi korban, penanganan LPG bocor, dan teknik pemadaman sederhana. Setelah itu, dibentuk struktur relawan per desa dengan koordinator dan sistem pelaporan cepat ke posko Damkar. Pelatihan ulang dan simulasi dilakukan setiap enam bulan sekali, untuk memastikan kesiapsiagaan tetap terjaga. Tim ONE KAR juga aktif memberikan edukasi dari rumah ke rumah tentang pencegahan kebakaran, serta membantu monitoring lingkungan sekitar. Semua aktivitas ini didokumentasikan dan dilaporkan secara berkala ke kecamatan dan kabupaten untuk evaluasi dan pengembangan lebih lanjut

Tujuan utama dari inovasi ONE KAR adalah mempercepat respons penanganan kebakaran khususnya di wilayah pedesaan yang sulit dijangkau unit Damkar dalam waktu singkat. Inovasi ini juga bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi situasi darurat, terutama pada lima menit pertama saat kebakaran mulai terjadi dan peluang untuk menekan api masih sangat besar. Melalui pelatihan, edukasi, dan pemberdayaan, masyarakat tidak lagi menjadi korban pasif, melainkan pelaku aktif yang turut melindungi lingkungan dan komunitasnya. Selain itu, ONE KAR ingin membangun jejaring relawan kebakaran yang berkelanjutan dan terorganisir di tingkat desa. Dalam jangka panjang, sistem ini akan membentuk budaya tanggap bencana yang kuat dari tingkat keluarga, RT, hingga desa secara menyeluruh. Tujuan lainnya adalah mengurangi beban operasional tim Damkar dan memastikan distribusi layanan kebakaran lebih merata dan efisien di seluruh wilayah kabupaten. Dengan inovasi ini, Pemerintah Kabupaten Empat Lawang juga ingin menciptakan standar baru pelayanan publik yang responsif, inklusif, dan berbasis partisipasi warga. Inilah bentuk nyata dari semangat kolaborasi dan keberdayaan masyarakat dalam menghadapi tantangan bencana yang terus berkembang.

Manfaat dari implementasi ONE KAR telah dirasakan langsung oleh masyarakat di berbagai desa. Salah satu manfaat paling nyata adalah meningkatnya rasa aman karena warga tahu ada tim relawan di lingkungan mereka yang siaga dan terlatih. Tak hanya itu, warga juga mendapat pengetahuan praktis yang bisa diterapkan secara mandiri, seperti teknik memadamkan api dari kebocoran LPG, penggunaan alat pemadam sederhana, dan evakuasi cepat. Adanya sistem pelaporan cepat antarrelawan dan posko Damkar membuat setiap insiden dapat direspons dalam hitungan menit, bukan lagi puluhan menit. Ini tentu menekan risiko kerusakan, korban jiwa, serta kerugian ekonomi akibat kebakaran. Selain itu, partisipasi warga dalam ONE KAR memperkuat solidaritas dan semangat gotong royong antarwarga. Para relawan menjadi simbol kepedulian dan keberanian yang menginspirasi warga lainnya untuk peduli terhadap lingkungan sekitar. ONE KAR juga memperkaya peran tokoh masyarakat dan pemuda desa sebagai agen perubahan dalam isu keselamatan publik.

Secara output, inovasi ini telah mencetak pencapaian yang signifikan dalam waktu kurang dari dua tahun pelaksanaannya. Hingga akhir tahun 2023, sudah terbentuk lebih dari 20 unit ONE KAR di desa-desa rawan kebakaran, dan terselenggara 10 sesi pelatihan dasar pemadaman api di berbagai kecamatan. Dinas Damkar juga telah mendistribusikan alat pemadam ringan seperti APAR, tangki semprot, ember pasir, dan perlengkapan lainnya ke 15 titik prioritas. Selain itu, telah dibentuk grup komunikasi lintas relawan dan posko yang aktif melaporkan insiden, membagikan informasi cuaca, hingga jadwal simulasi. Output lainnya adalah dokumentasi digital pelaporan, yang memudahkan evaluasi dan penyusunan rekomendasi kebijakan lebih lanjut. Tidak hanya jumlah, kualitas pelibatan masyarakat juga meningkat, terlihat dari antusiasme warga mengikuti simulasi dan kesiapan menghadapi kejadian nyata. Dengan basis data dan laporan sistematis yang terus diperbarui, program ini menunjukkan kejelasan arah, keterukuran hasil, dan keterlibatan multi-pihak. Semua ini menjadi dasar kuat untuk pengembangan ONE KAR menjadi program permanen yang didukung penuh oleh pemerintah daerah.

Sementara dari sisi outcome, inovasi ONE KAR telah berhasil menurunkan tingkat kerugian akibat kebakaran secara signifikan di wilayah intervensi. Berdasarkan analisis laporan Dinas Damkar, tujuh kejadian kebakaran yang berhasil ditangani relawan tercatat tidak menimbulkan kerugian berarti atau korban jiwa. Waktu tanggap tim utama Damkar pun mengalami pengurangan rata-rata delapan menit karena laporan awal dari relawan mempercepat arah pergerakan dan strategi pemadaman. Selain itu, masyarakat kini lebih siap menghadapi musim kemarau, yang biasanya menjadi puncak terjadinya kebakaran. Terbangunnya kesadaran kolektif dan pemahaman teknis menjadi fondasi yang kuat dalam membangun ketahanan bencana berbasis komunitas. Dengan hasil ini, Empat Lawang bisa menjadi rujukan kabupaten lain yang menghadapi tantangan serupa, yaitu keterbatasan armada namun luasnya wilayah rawan kebakaran. Outcome lainnya adalah meningkatnya kepercayaan publik terhadap pelayanan Damkar dan peran serta masyarakat dalam pelayanan publik. ONE KAR memperlihatkan bahwa membangun kesiapsiagaan tidak selalu harus mahal, tetapi harus terencana, terstruktur, dan dijalankan bersama-sama.

Keberlanjutan program menjadi fokus pengembangan selanjutnya oleh Dinas Satpol PP dan Damkar Kabupaten Empat Lawang. Pemerintah kabupaten merancang strategi agar ONE KAR menjadi bagian dari sistem permanen penanggulangan bencana dengan payung hukum yang lebih kuat. Rencana kerja ke depan mencakup pelatihan berjenjang, pembentukan posko mini di desa-desa, serta integrasi dengan sistem informasi kebencanaan daerah. Program ini juga akan dihubungkan dengan inisiatif lain seperti kampung tangguh, desa siaga, dan program pelatihan linmas. Dengan integrasi ini, ONE KAR tidak hanya menangani kebakaran, tetapi bisa diperluas untuk menghadapi bencana lainnya seperti banjir, tanah longsor, atau kecelakaan rumah tangga. Dukungan dari lintas sektor seperti BPBD, Dinas Kesehatan, dan TNI/Polri pun akan terus dikuatkan agar ONE KAR menjadi ekosistem tangguh yang kolaboratif. Harapannya, program ini bisa masuk dalam skema pembiayaan APBDes, CSR, hingga dana desa agar operasionalnya lebih stabil dan merata. Dengan semua rencana ini, ONE KAR diharapkan terus menjadi pelopor inovasi penanggulangan kebakaran berbasis masyarakat di Sumatera Selatan.

Sebagai penutup, ONE KAR (Relawan Damkar Desa) adalah wujud konkret dari pelayanan publik yang membumi, menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, dan dikelola dengan semangat kolaborasi. Inovasi ini menjawab tantangan klasik keterlambatan respons kebakaran dengan solusi cerdas yang mengedepankan kearifan lokal, pelibatan warga, dan pemanfaatan sumber daya seadanya namun efektif. Dalam waktu singkat, program ini telah memberi bukti bahwa keselamatan warga bisa ditingkatkan melalui pelatihan sederhana, sistem komunikasi cepat, dan gotong royong lintas komunitas. Kabupaten Empat Lawang kini tak hanya dikenal sebagai daerah produktif pertanian, tetapi juga pelopor sistem relawan kebakaran yang inspiratif. Jika diperkuat dan disebarluaskan, ONE KAR berpotensi menjadi program nasional dalam mitigasi bencana berbasis masyarakat. Masyarakat tak lagi hanya menjadi korban, tetapi kini menjadi penjaga bagi dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya. Inilah makna sejati dari pelayanan publik: hadir, dekat, dan berdaya bersama rakyat